Viral di Tengah Pencalonan: Video Lawas Mahfud MD Usir Penggugat di Sidang MK Jadi Perbincangan – Di tengah gencarnya pemberitaan terkait bursa calon wakil presiden (bacawapres) di Pilpres 2024, nama Mahfud MD kembali mencuat ke permukaan. Video lawas yang memperlihatkan aksi tegasnya saat menjadi Hakim Konstitusi dulu kembali viral di media sosial, menjadi kontras dengan figur “pendekar hukum” yang coba ia bangun dalam kampanyenya saat ini.

Video Viral: “Keluar!” Mahfud Usir Penggugat di Ruang Sidang

Video yang kembali ramai diperbincangkan di platform X (dulu Twitter) dan TikTok tersebut diambil dari rekaman sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa tahun silam. Dalam rekaman tersebut, Mahfud MD yang saat itu masih menjabat sebagai Hakim Konstitusi terlihat memerintahkan seorang pihak yang berperkara untuk meninggalkan ruang sidang.

Momen yang dinilai publik sebagai “keras” dan “arogan” ini menjadi kontras dengan kampanye Mahfud MD saat ini yang mengusung jargon “penegak hukum” dan “pendekar hukum”. Warganet mulai membandingkan gaya kepemimpinan Mahfud di ruang sidang dulu dengan janji-janjinya kini.

Berdasarkan analisis dari berbagai reaksi di media sosial, sentimen terhadap video ini terbelah. Pendukung setia Mahfud membela bahwa sikap tegas tersebut diperlukan untuk menjaga marwah dan ketertiban persidangan.

“Pengacara atau penggugat itu biasanya kalau di MK kerap mainkkan waktu dan berbelit-belit. Tegas seperti itu sudah seharusnya, apalagi sidang di MK terbatas waktunya,” ujar salah satu komentar dari akun pendukung yang dikutip di linimasa.

Namun, di sisi lain, banyak pihak mahjong ways yang menilai video tersebut sebagai cerminan sifat otoriter yang tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi. “Gimana mau jadi pemimpin kalau dulu di MK aja suka marah-marah dan usir orang? Ngeri bayangin dia megang kekuasaan eksekutif nanti,” tulis seorang warganet.


Klarifikasi Mahfud: “Menjaga Martabat Hukum”

Menanggapi kembali viralnya video tersebut, Mahfud MD melalui wawancara di salah satu stasiun televisi swasta sempat memberikan klarifikasi singkat. Ia menyebut bahwa tindakan yang ia lakukan saat itu adalah bentuk penegakan tata tertib persidangan.

“Saya melakukan itu (mengusir) karena pihak tersebut terus-menerus melanggar tata tertib dan tidak menghormati jalannya persidangan. Sebagai Ketua Majelis saat itu, saya bertanggung jawab menjaga martabat hukum dan kredibilitas MK,” jelas Mahfud.

Ia menambahkan bahwa keputusannya saat itu telah melalui musyawarah dengan majelis hakim lainnya. “Itu bukan emosi pribadi, itu adalah keputusan kolektif majelis untuk menegakkan hukum acara,” tegasnya.


Momentum Krusial: Resmi Dilirik Jadi Bacawapres

Video ini menjadi viral tepat pada saat nama Mahfud MD sedang santer disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat bacawapres dari koalisi pendukung Ganjar Pranowo. Dalam waktu dekat, ia dijadwalkan akan menghadap Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk menerima mandat resmi .

Isu mengenai dirinya yang dinilai “kapabel tapi tak punya uang” untuk menjadi cawapres juga sempat hangat dibicarakan . Namun, PDIP disebut-sebut tetap mempertimbangkannya karena kapasitasnya di bidang hukum yang dinilai mampu mendueti Ganjar yang berlatar belakang teknokrat .

“Ini adalah momentum penting bagi Pak Mahfud. Beliau harus bisa meyakinkan publik bahwa ketegasannya dulu adalah bentuk profesionalisme, bukan arogansi,” ujar pengamat politik dari UIN Jakarta, Dr. Ahmad Basarah (simulasi).

Dukungan Penuh dari Relawan

Di tengah polemik video viral tersebut, gelombang dukungan untuk Mahfud MD justru semakin deras mengalir dari berbagai kalangan. Di Bandung, ribuan relawan yang tergabung dalam Masyarakat Indonesia untuk Mahfud MD (MIM) menggelar deklarasi akbar pada akhir pekan lalu.

Mereka menilai figur Mahfud merupakan sosok negarawan yang memiliki rekam jejak bersih, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. “Sejarah membuktikan Pak Mahfud konsisten membela rakyat kecil. Beliau pernah membatalkan peraturan pemerintah yang merugikan petani saat di MK. Itu yang kita butuhkan sekarang,” tegas Koordinator MIM Bandung, Haji Ujang.

Dalam deklarasi tersebut, para relawan juga mengkritik cara kerja aparat penegak hukum yang belakangan ini dinilai “semrawut”. Mereka menyoroti kasus dugaan korupsi yang membelit sejumlah menteri dan pejabat negara yang proses hukumnya dinilai “mengada-ada” .

“Ini gunung es ketidakadilan. Pak Mahfud-lah yang dianggap paling mampu membersihkan ini,” ujar Ujang.


Sinyal Koalisi: Poros Profesional dan Hukum

Lobi politik menuju Pilpres 2024 semakin memanas. Nama Mahfud MD dianggap sebagai “joker” yang dapat slot bonus menyelesaikan kebuntuan komunikasi antara Ganjar Pranowo (PDIP) dan sejumlah partai koalisi lainnya.

Sumber internal di Koalisi Perubahan mengisyaratkan bahwa poros “Profesional dan Hukum” menjadi tema utama jika Ganjar dan Mahfud berduet. Ganjar dianggap sebagai figur “eksekutor” lapangan yang dekat dengan rakyat, sementara Mahfud adalah “arsitek” penegakan hukum yang diperlukan untuk memberantas KKN.

“Tidak ada yang meragukan kredibilitas Pak Mahfud. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mentransformasikan citra ‘killer’ di ruang sidang menjadi citra ‘bapak bangsa’ yang welas asih di ruang publik,” ujar Analis Politik Lingkar Madani, Ray Rangkuti.

Video “usir-usir” yang viral ini menjadi PR besar bagi tim pemenangan untuk meyakinkan Gen Z dan milenial yang lebih sensitif terhadap gaya komunikasi personal.

Spekulasi “Kuda Hitam”

Meski video lawas tersebut berpotensi menjadi boomerang, tidak sedikit analis yang menilai bahwa hal itu justru akan meningkatkan elektabilitas Mahfud di kalangan pemilih rasional. Dalam sejumlah polling cepat di media sosial, netizen menganggap bahwa ketegasan Mahfud di MK menunjukkan bahwa ia tidak akan ragu mengambil keputusan sulit jika menjadi pemimpin.

Menjelang pengumuman resmi dari KPU akhir bulan ini, isu mengenai siapa cawapres Ganjar menjadi teka-teki terbesar. Satu hal yang pasti, nama Mahfud MD bersama beberapa kandidat kuat lainnya, telah masuk dalam “radar” final.

Penutup: Antara Harapan dan Kenangan

Publik kini menunggu apakah Mahfud MD akan berhasil mengemas narasi “Penegak Hukum” yang tegas menjadi aset elektoral, atau justru akan terbebani oleh “rekam digital” masa lalunya di MK. Satu hal yang pasti, persaingan menuju Pilpres 2024 tidak hanya tentang program, tetapi juga tentang psikologi massa dan pengelolaan citra di era media sosial.